KURET

 Kuret

Oleh: Siti Khoiriyah


Hati perempuan mana yang tak hancur berkeping-keping, jika buah hati yang kudamba-dambakan selama bertahun-tahun, harus pergi ketika dokter mengatakan “kuret”.

Dokter memfonisku hamil anggur. Hamil ini ditandai dengan perut yang terasa kram dan pendarahan hebat. Katanya, sangat bahaya jika tidak segera dilakukan tindakan medis. “Apa tidak bisa dipertahankan, Dok?

“Mohon maaf, janinnya harus segera dikeluarkan karena janin tidak berkembang (hamil BO). Jadi tidak bisa dipertahankan lagi.” Jelas dokter kepadaku. 

Bagai disambar petir di siang bolong. Aku menjerit dan menangis. Hatiku kelu, namun aku harus menerima kenyataan bahwa kuret adalah jalan satu-satunya. Sebuah nestapa yang rasanya sulit diurai dengan kata.

“Mas, janin kita mas... Aku tidak mau kehilangannya. Tolong katakan ke dokter mas, janinku sehat!” Dengusku dengan membuang selimut yang menempel pada tubuh.

“Sayang, yang kuat ya... Kita harus menuruti saran dokter. Itu yang terbaik untuk kesehatanmu. Kita sebagai manusia hanya mampu berikhtiar. Semuanya sudah diatur sama Allah. Jadi yang ikhlas dan sabar ya sayang.”

Aku nangis sejadi-jadinya. Janin yang selama ini kujaga dengan sangat hati malah pergi meninggalkan diri ini sesuka hati. Hatiku hancur berkeping-keping.

Sebelumnya berbagai cara sudah nyaris kulakoni. Semua demi mimpiku menjadi seorang ibu dari anak yang lahir dari rahimku. Mulai dari program bayi tabung, pijat ke dukun bayi untuk mengurut perut, dan minum jamu yang pahitnya bukan main. Entah, mungkin sudah tak terhitung berapa total biaya yang sudah dikeluarkan.

“Kamu nggak eman toh dengan uangmu yang kamu hambur-hamburkan untuk mendapatkan seorang anak?” Gumam Mbak Veni, kakak dari suamiku.

“Tidak mbak, inshaallah nanti ada rezekinya sendiri,”

“Kenapa kamu tidak mengadopsi anak saja? Banyak kok. Apa perlu mbak antarkan kamu ke panti asuhan? Kamu tinggal milih mau laki atau perempuan,” timpalnya.

“Saya dan Mas Hendra masih mau berikhtiar mbak. Kami mengharapkan buah hati yang berasal dari darah daging kami sendiri. Doakan saja ya mbak, supaya segala ikhtiar kami berhasil.”

“Mau sampai kapan?” Kilahnya.

“Sampai Allah berkata kini tiba saatnya kamu menimang anak, kunfayakun”

Tak hanya itu, cacian dan cercaan pedas kerap menjadi santapan telingaku. Katanya, aku tidak menjaga kandungan dengan baik, tidak menjaga pola makan, tidak minum asam folat dan vitamin, kandunganku tak sehat, dan hormon suami bermasalah. Semuanya tak ubahnya bak duri dalam daging.

“Apa mungkin kamu kena karma? Habisnya tiap hamil pasti tidak bertahan lama,” decak Bu Dwi, tetangga kompleks. Bu Nita menimpali, “Apa mungkin kena guna-guna?”

“Astagfirullah ibu-ibu. Allah hanya belum memberikan amanah ke kami saja. Mohon doanya ya bu, semoga kami diberikan kekuatan untuk menghadapi ini semua.”

Semenjak kuret itu, aku membatasi waktu untuk keluar rumah. Bukan depresi, melainkan aku hanya ingin menyendiri, menyepi dalam sunyi. Ingin terhindar dari hingar-bingar yang kerap melanda hati.

Hampir kini semua waktuku kuhabiskan di dalam rumah. Apalagi aku hanya sebatas ibu rumah tangga. Keluar hanya sekadar mampir beli sayuran di Pak Dadang yang melintas di depan teras.

“Bu Neni kok jarang kelihatan keluar rumah. Jangan di rumah saja bu, keluar gitu biar bisa ngrumpi dengan ibu-ibu kompleks yang lain,” ujar Bu Widya, ibu RT. Pak Dadang menimpali, “Bu Neni sakit?” 

“Alhamdulilah sehat, Pak” Jawabku sembari menyodorkan total uang belanjaan yang kubeli. “Ini pak uangnya,”. Lalu aku bergegas masuk rumah.

Aku mengeksekusi sayuran untuk santapan sarapan. Kali ini, aku memasak sup daging sesuai permintaan suamiku semalam. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suamiku dari belakang. 

“Selamat ulang tahun, istriku. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, segala hajat-hajatnya segera terkabulkan. Semoga diluaskan kesabarannya, dilapangkan hatinya, dan dilancarkan segala urusannya. Aku beruntung mempunyai istri sepertimu.”

Betapa terkejutnya aku. Aku tak menyangka ia seromantis ini. Ia membawa kue tart yang atasnya terselip gambar rupaku. Ia juga membawa seikat bunga mawar berwarna putih, warna kesukaanku.

Aku sangat beruntung mempunyai suami Mas Hendra. Meski ia terlihat cuek, tapi ia adalah suami yang penuh tanggung jawab. Ia begitu sempurna di mataku.

“Ini sudah kupersiapkan tiket untuk kita berdua. Nanti malam kita akan berangkat ke Bandung.” Ucap suamiku mengeluarkan kertas dari dalam sakunya. 

“Wah, ke Bandung? Ah, rasanya sudah sangat lama aku tak mengunjungi tempat itu,” timpalku dengan mata berbinar-binar. “Terima kasih ya mas”.

Aku mempersiapkan segala sesuatunya yang akan kubawa ke Bandung. Kupandangi foto di sudut kamar rumah. Foto USG 4 dimensi yang kudapatkan dari dokter kandungan tepat 7 bulan yang lalu. Aku mengelus dada dan menyeka butiran air mata yang menetes. Segera kutaruh foto itu di antara baju-baju lalu kumasukkan ke dalam koper.

Semuanya sudah beres. Rasanya aku sudah tak sabar menunggu hari menjelang malam. Sudah terbayang aku merasakan suasana Kota Kembang.

Aku dan suami naik kereta pukul 21.25. Kami menikmati suasana naik kereta. Rasanya, sudah lama kami tidak naik kendaraan yang terdiri atas rangkaian gerbong ini. Tepat pukul 09.37 kami tiba di Bandung.

Kami bergegas menuju tempat untuk beristirahat. Ya, motel. Di tempat tersebut terdapat sebuah kafe yang terlihat klasik. Tampak ukiran ornamen-ornamen di setiap sudut ruangannya. Pemandangan itu menambah suasana makan siang ini terasa teduh bersamaan turunnya hujan yang mengguyur tempat ini.

“Mas, perutku kok nyeri ya? Aku ke toilet sebentar ya...” Ujarku sembari memegang perut yang terasa kram.

“Ayo mas antarkan. Takutnya kamu ada apa-apa dan kenapa-kenapa.” Timpalnya sembari menyudahi sebatang rokok yang dihisapnya.

Aku menuju toilet. Saat aku berjalan, tampak darah segar keluar perlahan mengenai kakiku. Aku terperanjat dan tak sadarkan diri. 

Aku mulai terbangun. Betapa tercengangnya aku berada di dalam ruangan yang menguar bau obat-obatan itu dan ada pula berdiri dua orang di sampingku yakni suami dan seorang dokter. 

“Aku kenapa, Mas? Celetukku dengan menggenggam tangan suamiku itu.

 “Kamu pendarahan sayang,” jawabnya.

“Pendarahan?” Tanyaku nanar.

“Iya... Kamu hamil sayang. Kamu pendarahan karena kamu sepertinya kecapekan di perjalanan semalam,” 

Aku tak menyangka bahwa suamiku mengatakan aku hamil. Hamil kali ini berbeda dengan hamil sebelumnya karena aku tak merasakan layaknya perempuan yang hamil pada umumnya seperti mual, ngidam, dan masih banyak lagi.

“Apa aku akan dikuret lagi ?” Tanyaku terbata-bata kepada dokter yang berada di sebelah suami.

“Tidak, ini masih bisa ditangani. Mungkin ibu hanya kecapekan saja. Ibu hanya butuh istirahat. Setelah ini akan saya berikan resep obat dan vitamin biar kandungan ibu tetap kuat dan sehat.” Terangnya.

Tangiskupun pecah. Bukan karena aku bersedih, tapi tangis kali ini adalah tangis kebahagiaan karena janin di dalam rahimku masih bisa terselamatkan. Aku selalu berdoa agar janin ini sehat sampai lahir nanti.

“Alhamdulilah sayang, Allah masih memberikan amanah kepada kita,” ungkap suamiku seraya mencium keningku.

“Iya mas, alhamdulilah. Aku sangat bersyukur Allah telah mengabulkan doa-doa kita,” jawabku.

Kami saling menatap dan berpelukan. Kami mengucap rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan kejutan besar tepat di hari ulang tahunku. Kado terindah hadirnya buah hati yang selalu di nanti.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BISA KARENA TERBIASA

Saling Bekerja Sama