BAYU, DALANG MUDA ASAL MALANG
BAYU, DALANG MUDA ASAL
MALANG
“Saya suka mendalang sejak
umur tiga tahun. Dulu waktu kecil ayah mengajariku mendalang, serta guruku yang
mulai saya kecil sampai sekarang ini tetap mengajarkanku,” ujar Bayu
menceritakan pengalamannya, Kamis (22/06).
Mahasiswa yang pernah
menyabet juara 1 lomba Dalang Jawa Timur ini mempunyai tokoh dalang idola yakni
Ki Purbo Asmoro, S. Kar., M.Hum. dan Ki Sukron Suwondo. Menurutnya, mereka
merupakan sosok panutan.
“Mereka itu dalang
sekaligus seniman yang handal, bisa bermasyarakat dan semua sukses di bidang
karir dan kesenimannya. Mereka semua selalu berinovasi dan berkarya baru tanpa
meninggalkan tradisi atau pakem yang ada,” ungkapnya.
Pria kelahiran Malang, 21
Juni 1996 ini mengungkapkan, ia memainkan segala jenis pewayangan, diantaranya
wayang kulit, golek, kancil, dan uwong. Tokoh yang ia sukai dalam pewayangan
yakni Gatotkaca dan Abimanyu.
“Mereka itu satria pilih
tanding, satria hebat, tangkas dan cerdas. Bisa menjadi tonggak negara walaupun
masih muda,” ujarnya.
Mahasiswa yang mempunyai
hobi memancing ini menuturkan, bahwa ukuran berat wayang sangat memengaruhi
teknik memerankan setiap tokoh wayang, karena berat wayang menentukan kadar
kecepatan sabet.
Di bulan puasa ini, ia
mengungkapkan bahwa ia sudah dua kali
mendalang. Untuk bulan Juli, ia sudah ada jadwal mendalang di Malang, Surabaya,
Semarang, Solo, dan Jakarta. Untuk persiapannya, ia latihan rutin setiap hari agar
bisa kompak denga pemain musiknya.
Mahasiswa yang pernah
menjadi pemenang lomba nembang se-Jawa ini menurutnya, dalam mendalang harus
mengerti permintaan pasar/permintaan penonton dan menyesuaikan tradisi dengan
zaman modern saat ini.
Saat ini, Bayu dan
teman-temannya sudah mempunyai sanggar sendiri yang bernama Sanggar Seni Singamulangjaya
dan tergabung dalam Gatra UM. Ia juga gabung di sanggar seni kota Batu yang
bernama Sarkara.
Mahasiswa yang pernah
meraih juara 1 lomba Campur Sari Se-Jawa Timur dan Jawa Tengah ini mempunyai
motivasi dalam seni yakni tetap terus berkarya, menjaga kebudayaan bangsa agar
tetap terjaga, karena benteng terakhir bangsa adalah budaya.
Komentar
Posting Komentar