BENGIS
Bengis
Oleh: Siti Khoiriyah
Aku tidak suka keramaian. Baik itu suara orang keras, orang teriak, ataupun kegaduhan, yang membuat kepalaku jadi berisik.
Masih teringat di kepalaku sosok kepala keluarga yang seharusnya menjadi pelindung, tapi dengan beringasnya ia membantai istrinya sendiri, yang kupanggil dengan sebutan ibu.
Ibu, wanita pekerja keras dan sabar. Kesibukannya berjualan di pasar dari pagi hingga sore membuatnya tak pernah lelah dan pantang menyerah untuk mengais rezeki. Itu semua demi kehidupan keluarga menjadi lebih baik.
Ayahku, penjudi sekaligus penikmat ciu. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan untuk minum-minuman keras bersama teman-temannya. Jika masih setengah sadar, ia akan pulang sendiri menuju rumah. Jika ia tak sadar, maka paling tidak teman-temannya membopongnya ke rumah. Atau bisa jadi jika semuanya tak sadar, ayahku bisa saja tidur tergeletak di tempat ia minum-minuman yang baunya menyengak itu. Karena kesehariannya seperti itulah membuat ayahku tidak bisa mengontrol emosi. Ia selalu kasar dan main tangan terhadap ibu.
Pernah suatu ketika saat aku masih duduk di bangku SD, kudapati ibuku menangis di dalam kamar. Di dalam kamar terdengar ayah memaki-maki ibu dengan perkataan kotor. Tak hanya itu, terdengar juga suara pukulan yang tiada henti dan terdengar pula suara benda-benda saling berjatuhan. Aku gemetar mendengar itu semua.
Segera kutolong ibu. Namun, karena tubuhku yang kecil dan ringkih membuatku tak bisa menolongnya karena aku tertahan oleh tubuh ayahku yang sangat kuat.
Ayah keluar dari kamar. Ia membelalakkan mata ke arahku dan mendorong tubuhku. “Kamu anak kecil, keluar sana! Biar ibu jadi urusan ayah,” bentaknya memberitahuku supaya pergi meninggalkan rumah.
“Nggak mau yah, aku maunya sama ibu,” rengekku berlutut di kaki ayah. “Tolong lepaskan ibu, yah. Jangan sakiti ibu!”
Ayah menyeret ibu ke dalam kamar. Tak ada satu pun kalimat yang terlontar dari mulut ibu untuk berteriak minta tolong. Aku hanya mendengar isakannya dan beberapa kalimat istigfar. Aku dobrak pintu itu, tapi tak berhasil. Yang ada hanya kakiku yang sakit. Aku berusaha mencari benda tajam untuk menghancurkan pintu yang kokoh itu. Namun hasilnya nihil.
Aku keluar rumah berusaha meminta pertolongan kepada tetangga. Namun, mereka hanya melihat keributan ini sebagai sebuah tontonan belaka. Mereka hanya berdiam diri menyaksikan dari kejauhan, tanpa menolong ,dan hanya menjadi penikmat sebuah adegan yang tengah berlangsung.
Bukan hal yang asing dan mustahil pertengkaran kerap menjadi sebuah tontonan bagi warga Desa Asri. Bukannya melerai, akan tetapi antarwarga malah saling berbisik-bisik kepo dengan sebuah pertanyaan kenapa dan mengapa pertengkaran itu terjadi.
Aku mondar-mandir meminta pertolongan ke warga, berharap ada seorang yang mau membantuku untuk menghentikan tindakan biadab ayah. Namun, tak ada satu pun warga yang berani meleraikannya karena memang ayahku sangatlah bengis, apalagi ia mantan preman di kampung ini. Ia tak segan-segan mencelakai bahkan mungkin menghabisi nyawa seseorang yang mencoba masuk dan ikut campur dalam rumah tangganya.
Segera aku balik menuju rumah. Yang ada dalam pikiranku perihal nyawa ibu. Berharap ibu tidak mati di tangan ayah. Aku nggak mau menjadi piatu di usiaku yang masih dini. Aku masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Dengan keyakinan yang kuat, aku mencoba mendobrak pintu itu sekuat tenaga. Dengan kekuatan-Nya, pintu itu berhasil terbuka. Aku melihat tubuh ibu penuh lebam. Matanya bengkak, dan ia terkapar lemas tak berdaya di lantai.
“Ayah, cukup yah! Jangan sakiti ibu,” aku berusaha menepis tangan ayah agar tangannya tidak mengenai ibu.
“Kamu anak kecil tahu apa? Nangis saja terus! Pergi ke ke alam baka sana sama ibumu!” dikeluarkannya baju-baju ibu ke luar rumah, lalu dibakarnya.
“Hentikan yah!,” aku dan ibu berusaha menghentikan tindakan bengis ayah. Tiba-tiba, asbak melayang tepat di dahi ibu. Darah segar mengucur sangat deras.
Ibu merintih kesakitan. Kusobek baju yang tengah kukenakan dan kubalut luka itu. Melihat ibu yang tak berdaya, aku memohon ayah untuk menolongku membawa ibu ke rumah sakit. Namun ayah menolak. Meski dengan berjalan terhuyung-huyung karena bekas pukulan ayah ke ibu yang mengenaiku, aku berhasil membawa ibu ke klinik terdekat yang tak jauh dari rumah.
Ibu menjalankan pengobatan di klinik. Dokter menyarankan agar ibu banyak beristirahat. Dokter memberikan sebuah resep obat dan salep untuk meredakan dan menyembuhkan luka pada tubuh ibu. Setelah mendapat perawatan dari dokter, aku dan ibu pulang. Bukan pulang ke rumah yang berhiaskan kebengisan itu, melainkan pulang ke rumah nenek yang ada di seberang kota.
Aku dan ibu pergi meninggalkan rumah itu selamanya. Bukan karena kami tak hormat dan tak sayang dengan ayah, tetapi aku tak mau melihat nyawa ibu terancam dan melayang di tangan ayah. Ayah yang sejatinya menjadi pelindung keluarga, justru menjadi manusia paling menakutkan di dunia. Mengingat kejadian itu, ada trauma mendalam untukku terhadap sosok laki-laki. Aku berpikir bahwa semua laki-laki di dunia ini sama. Sama seperti ayahku.
Komentar
Posting Komentar