Yang Kubenci dari Jarak

Oleh: Siti Khoiriyah


Sebagai seorang wanita karir, mengharuskanku untuk terbiasa mandiri. Apalagi bekerja yang mengharuskanku bangun pagi. Menyiapkan segala keperluan anak setiap hari.

Namaku Alesha, ibu dengan satu anak. Perkerjaanku adalah guru di salah satu SMA Favorit Jakarta. Hampir setiap hari waktuku dihabiskan di sekolah ini karena kebetulan sekolahnya adalah sekolah fullday. 

Pagi itu, aku berangkat ke sekolah dengan naik motor. Tiba-tiba di jalan turun hujan deras. Dengan segera aku mencari tempat berteduh untuk memakai jas hujan. Saat kupakai jas hujan, tak sengaja atasan jas hujan tersebut sobek. Banyak orang yang melihatku dengan wajah yang tak biasa.

“Sendiri saja, mbak?” celetuk wanita paruh baya yang ada di dekatku.

“Oh, iya bu” jawabku.

“Suaminya kemana?” tanyanya dengan nada penasaran

“Kebetulan suami saya lagi bekerja di luar kota” timpalku.


Beginilah konsekuensi hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR). Aku sadar betul hubungan jarak jauh tidak mudah dijalani. Semuanya harus sendiri, serba mandiri. Terlebih saat ini aku memasuki trimester 3, yang mengharuskanku selalu ekstra hati-hati untuk menjaga diri.

Hujanpun reda, kulanjutkan untuk meneruskan perjalanan ke tempatku mengajar. Sesampai di sekolah, kulihat banyak dari teman-temanku kerja yang diantar oleh suami. Hati ini kian bergejolak. Pun bergumam “Andai suamiku bisa mengantar dan menjemputku seperti dia. Ah, rasanya tidak mungkin!” Dengan segera kumencoba mengalihkan pandanganku dan bergegas untuk memarkirkan motor buntutku.

Segera kuambil ponselku, kukirim pesan WA ke suamiku. 

“Mas, alhamdulilah saya sudah sampai di sekolah. Kebetulan tadi di sini hujan, jadi saya tadi berteduh sebentar”.

“Oh iya dik, tadi jas hujannya dipakai kan?”

“Iya mas, tadi jas hujannya saya pakai. Tapi ga sengaja atasan jasnya sobek. Mungkin karena udah nggak muat.”

“Maaf ya dik, mas nggak bisa menemani dan mengantarkanmu. Apalagi dengan kondisimu saat ini. Mas jadi merasa bersalah, dik. Sekali lagi maafkan mas yaa...”

Baru membacanya, tiba-tiba air mata ini sudah membanjiri pipi. Memang, sebagai seorang perempuan, pastinya selalu mengharapkan pasangan selalu ada di sampingnya dimanapun dan kapanpun. Namun, karena pekerjaanlah yang mengharuskan untuk berpisah. Aku percaya, jarak ini bukan alasan untuk memisahkan kita. Ini sementara saja. Sampai kita temukan bahwa kita mampu bertahan. Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Terima kasih untuk jarak, denganmu rindu ini semakin menjejak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURET

BISA KARENA TERBIASA

Saling Bekerja Sama